Gelaran Nampani poso

Feb 28, 2025 14:36 · 2 tahun lalu
 133
Gelaran Nampani poso
gelaran nampani poso , sembah demang, Tegalrejo ,Jember lor

Menumbuh Kenali Kembali Tradisi Nampani Poso di Sembah Demang
#GBKJember2025

Jember, [23 Februari 2025] – Dalam upaya melestarikan kearifan lokal serta membangun ruang publik bagi peradaban dan budaya, masyarakat Kampung Sembah Demang, Jember, kembali menggelar tradisi Nampani Poso. Acara ini menjadi momentum revitalisasi dan komodifikasi budaya yang menyatukan para pegiat seni, pelaku budaya, serta masyarakat setempat dalam sebuah harmoni kata, gerak, dan irama. Tradisi ini juga menjadi bagian dari upaya pemajuan kebudayaan di Jember, yang terus bertahan di tengah arus modernisasi.

Gelaran Nampani Poso ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Grebeg Budaya Kampung yang diinisiasi oleh Balai RW Institute. Acara ini difasilitasi oleh Kementerian Budaya melalui Dana Indonesiana, dengan Direktur Program Catur Budi Prasetya.

Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Gelaran Nampani Poso menjadi sarana kolektif untuk menghidupkan kembali praktik amaliyah kultural, mendoakan leluhur sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang, serta mempererat tali silaturahmi antarwarga. Acara ini juga menjadi refleksi bersama untuk mengenali identitas budaya dan menumbuhkan kebanggaan terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Rangkaian Acara yang Sarat Makna

Tradisi Nampani Poso dimulai dengan kirab tumpeng dan sesaji menuju petilasan Sembah Demang, tempat yang dipercaya sebagai jejak leluhur masyarakat kampung. Kirab ini diikuti oleh warga dengan penuh khidmat, menandai penghormatan terhadap sejarah dan warisan budaya. Prosesi dilanjutkan dengan doa bersama, yang dipanjatkan kepada Tuhan dan alam semesta untuk keberkahan bagi masyarakat dan para pelaku budaya yang hadir.

Suasana semakin sakral dengan alunan musik Glundengan dari Sanggar Umah Wetan, Desa Biting. Musik tradisional ini mengiringi lantunan syair religius yang menggugah makna ketakwaan. Setelahnya, Sanggar Sembagi Arutala mempersembahkan Tari Solah, tarian khas yang menggambarkan semangat pantang menyerah dalam menghadapi lika-liku kehidupan. Gerakan yang gesit, tegas, dan patah-patah mencerminkan tekad kuat seorang anak muda dalam meraih impian, meski harus menghadapi berbagai rintangan.

Sejak pagi, masyarakat Sembah Demang – Tegalrejo telah menantikan acara ini dengan penuh antusiasme. Tradisi ini telah lama tidak digelar, sehingga kehadirannya disambut dengan harapan besar agar bisa menjadi agenda tahunan menjelang bulan puasa.

Saat matahari mulai condong ke barat, prosesi Nampani Poso terus berlangsung di bawah langit sore yang cerah. Kampung Tegalrejo, yang terletak di tengah hamparan sawah di balik Masjid Jamik Baitul Amin dan Pendopo Bupati Jember, menjadi saksi kebangkitan kembali ritual budaya ini. Penyair Barlean Aji membacakan puisi-puisinya, diiringi semilir angin yang berdesir di antara pepohonan. Suasana semakin syahdu dengan pertunjukan ritus Sandur Rellang dari Dusun Mojan, Desa Klungkung. Ritus ini, yang berasal dari lereng Gunung Hyang Argopuro, menghadirkan gerak ritmis berupa tarian berputar dengan lirik-lirik menyerupai mantra. Biasanya, Sandur digelar setiap bulan Suro oleh masyarakat Desa Karangpring dan Klungkung, namun kali ini, ritus sakral tersebut menjadi bagian dari Gelaran Nampani Poso.

Pada penghujung acara, ibu-ibu warga Kampung Sembah Demang menampilkan sholawatan dari Hadrah Al Hidayah. Lantunan sholawat yang mengalun lembut menutup rangkaian acara dengan penuh hikmat, menghadirkan ketenangan batin bagi seluruh peserta.

Penanggung jawab kegiatan Gelaran Nampani Poso ini adalah Day Artansura, seorang pegiat budaya dan seni di Jember yang telah lama aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian kebudayaan lokal.

Merawat dan Merayakan Identitas Kultural Jember

Lebih dari sekadar ritual tahunan, Gelaran Nampani Poso menjadi simbol perjuangan dalam menjaga harmoni budaya di tengah derasnya arus kapitalisme dan materialisme global. Jember memiliki kekayaan budaya dan peradaban yang khas, di mana komunitas lintas zaman dan lintas etnik saling berinteraksi, membentuk identitas daerah yang unik.

Sebagai wilayah dengan keberagaman geografis yang mencakup pegunungan, sungai, dan laut, Jember merupakan masyarakat majemuk yang hidup dalam ekosistem tepi benua. Bagian utara berbatasan dengan lereng Gunung Raung, sementara selatan langsung menghadap Samudera Hindia. Keunikan geografis ini turut membentuk karakter masyarakatnya yang dinamis dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Dengan terselenggaranya Gelaran Nampani Poso, masyarakat Jember diingatkan kembali akan pentingnya menjaga dan mengembangkan warisan budaya agar tetap relevan di masa kini dan mendatang. Sampai jumpa pada gelaran berikutnya! ( Gun ,SS.BRW )