Lomba Kejung : Merawat Tradisi Lisan di Jember

Apr 14, 2025 19:27 · 2 tahun lalu
 261
Lomba Kejung : Merawat Tradisi Lisan  di Jember
Budaya seperti Kejung adalah benteng identitas. Kita bisa hebat, tapi jangan lupa jati diri kita.” Heri Susianto ,Deputi Bisnis Pegadaian Area Jember.

JEMBER – Riuh suara kidung bersyair dalam bahasa Madura menggema dari panggung terbuka yang didirikan di area Pasar Tanjung ,Tepatnya didepan Kantor Cabang Pegadaian Jember. Sayembara Kejung Madura menjadi titik sorotan dalam perhelatan Grebeg Budaya Kampung 2025 yang digelar di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
    Tradisi lisan Kejung, yang selama ini nyaris terpinggirkan oleh arus budaya populer, kembali mendapat ruang dan perhatian. Tidak hanya sebagai ajang perlombaan, Kejung diangkat sebagai simbol ketahanan budaya yang merekatkan identitas lokal masyarakat Madura di pesisir selatan Tapal Kuda.
    “Kejung makin sedikit peminatnya. Banyak anak muda bahkan tidak tahu ini pernah jadi hiburan utama di kampung-kampung,” ujar Sulung, penanggung jawab acara dari Balai RW Institut. “Lewat sayembara ini, kami ingin mentransformasikan keterampilan dan pengetahuan kepada generasi baru.”
    Kejung merupakan bentuk seni tutur khas Madura, berbentuk pantun atau kidungan yang dinyanyikan dalam irama tertentu. Di masa lalu, Kejung hadir dalam pertunjukan ludruk, pasar malam, hingga hajatan rakyat. Isi syairnya seringkali bersifat humoris, menyentil keadaan sosial, hingga menyampaikan nasihat kehidupan secara halus namun tajam.


Namun, seiring berkembangnya teknologi dan pola hiburan masyarakat, seni ini perlahan tenggelam. Banyak pelakunya kini berusia lanjut, dan belum banyak generasi muda yang tertarik mempelajari.
    Hal itu juga menjadi perhatian Awal Darmawan, pegiat seni karawitan dari Situbondo yang dipercaya sebagai salah satu juri dalam lomba.
“Di daerah saya, banyak anak muda bahkan tak pernah dengar istilah Kejung. Padahal ini bagian penting dari identitas kultural kita,” katanya. “Harus ada strategi kreatif agar Kejung bisa hadir di kanal-kanal yang akrab dengan generasi sekarang.”
    
    Cak Lip, seniman ludruk senior dan pengurus Dewan Kesenian Jember, mengaku bangga bisa menjadi juri dalam ajang ini. Ia menilai inisiatif komunitas untuk menghidupkan kembali seni tutur seperti Kejung sebagai langkah yang harus terus diperluas.
“Grebeg Budaya Kampung ini sangat langka. Kalau tidak ada ruang-ruang seperti ini, Kejung bisa benar-benar punah,” ujarnya. “Saya harap setelah ini Kejung bisa menyebar ke sekolah-sekolah dan jadi bagian kurikulum lokal.”
    Salah satu momen paling mengharukan dalam kegiatan ini terjadi saat Fitri Nuramurti, akademisi dari Universitas Jember yang juga duduk sebagai juri, menyampaikan testimoninya di akhir lomba. “Bagi saya, ini bukan sekadar lomba. Ini adalah perayaan kebudayaan. Melihat para pelaku seni tutur yang tetap setia di usia senja adalah pengalaman yang menyentuh. Saya bangga bisa terlibat,” ujarnya .
    Dukungan terhadap pelestarian Kejung juga datang dari pemerintah daerah. Sugeng Riyadi Kabid Kebudayaan dan Cagar Budaya di Disparbud Kabupaten Jember, menyatakan dalam sambutannya  bahwa pelestarian seni tradisi kini menjadi bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan.“Kami tidak akan berhenti di acara ini. Ada rencana pelatihan, dokumentasi, dan integrasi ke program sekolah. Kejung adalah kekayaan daerah yang harus dijaga,” katanya.
    Menariknya, sektor swasta pun turut memberi perhatian. Heri Susianto ,Deputi Bisnis Pegadaian Area Jember, yang hadir mewakili lembaga keuangan, yang menjadi sponsor Utama Kegiatan Lomba Kejung Madura tersebut, menyampaikan bahwa pelestarian budaya adalah bagian dari tanggung jawab sosial yang penting. “Melalui festival seperti ini, kita bisa mengingatkan generasi muda akan jati dirinya. Kita bisa hebat dan maju, tapi jangan lupa siapa kita dan dari mana asal kita,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa dalam dunia yang semakin seragam akibat globalisasi, budaya seperti Kejung menjadi benteng terakhir yang menjaga keunikan dan kekayaan nilai-nilai lokal.“Budaya seperti Kejung ini adalah benteng identitas. Di saat dunia semakin homogen, yang membuat kita unik adalah tradisi kita,” tambahnya.
    Sayembara yang berlangsung diikuti oleh 10 peserta dari berbagai desa dan Kelurahan,,di kabupaten Jember. Peserta tampil mengenakan busana tradisional,menyuarakan Kejung dalam berbagai tema—dari sindiran terhadap kondisi kampung, kisah cinta penuh satire, hingga ajakan menjaga kelestarian alam.Sayembara ini lebih menjadi reuni para pelaku Ludruk dan pengejung , namun para peserta tetap menunjukkan penampulan terbaiknya , dan Lomba ini diakhiri dengan kejung bersama seluruh peserta dalam kegembiraan, sebagai simbol perayaan awal bangkitnya kembali tradisi lisan di Jember .(GN. Lingkarbudaya)