Sarasehan Ekologi Budaya Hyang Argopuro

all photos is copyrighted to Balairw Institute

Feb 28, 2025 17:37 · 2 tahun lalu
 153
Sarasehan Ekologi Budaya Hyang Argopuro
Imam Jazuli , Pegiat Budaya dan Juru Pelihara Situs dan cagar Budaya Jember
Sarasehan Ekologi Budaya Hyang Argopuro

Sarasehan Ekologi Budaya Hyang Argopuro
(Catatan untuk Sudut pandang Sejarah Kuno Argopuro )

Jember, 27 Februari 2025 – Salah satu pemateri ,Imam Jazuli ,seorang Pegiat Budaya dan Juru pelihara Cagar budaya Jember dalam Sarasehan Ekologi Budaya Hyang Argopuro mengangkat tema besar tentang peran Mandala Kedewaguruan dalam sistem pendidikan dan spiritual pada masa klasik Nusantara. Diskusi ini menyoroti situs-situs arkeologi dan ekologi budaya di kawasan Pegunungan Hyang Argopuro yang diduga sebagai pusat pendidikan spiritual pada masa lampau.

Peran Mandala Kedewaguruan dalam Sejarah Nusantara
Mandala Kedewaguruan, yang menjadi bagian dari sistem pendidikan pada masa kerajaan-kerajaan klasik di Nusantara, berfungsi sebagai pusat pembelajaran spiritual, keagamaan, dan intelektual. Konsep ini dikenal sejak era kerajaan Hindu-Buddha dan didukung oleh prasasti kuno seperti Prasasti Humanding (875 M) dan Prasasti Jurungan (876 M), yang mencatat keberadaan Prasada di Gunung Hyang sebagai kawasan suci dan bebas pajak.

Mandala tidak hanya berperan dalam pendidikan, tetapi juga dalam sistem pemerintahan. Calon pemimpin kerajaan harus mendapatkan pendidikan spiritual dan intelektual dari seorang guru atau Dewaguru sebelum menduduki posisi kepemimpinan. Lokasi Mandala umumnya berada di tempat yang jauh dari pemukiman, seperti di hutan atau pegunungan, untuk mendukung kehidupan bertapa dan belajar.

Jejak Arkeologis di Kawasan Hyang Argopuro


Berbagai temuan arkeologi di kawasan Hyang Argopuro memperkuat dugaan bahwa daerah ini merupakan pusat aktivitas keagamaan dan pendidikan pada masa lampau. Situs-situs penting meliputi:

Puncak Rengganis – Ditemukan inskripsi Kawi kuadrat tahun 1277 Saka (1355 M), yang menjadikannya sebagai situs cagar budaya tertinggi di Jawa.
Candi Kedaton – Terletak di lereng barat Argopuro dengan inskripsi tahun 1292 Saka (1370 M).
Dusun Sodong, Panti – Ditemukan berbagai artefak seperti umpak bermotif sulur, lumpang, menhir, serta fragmen gerabah yang menunjukkan jejak kehidupan spiritual dan keseharian masyarakat masa lalu.
Prasasti Congapan – Menyebut istilah “Sarwa Hana” atau “serba ada,” yang mengindikasikan kawasan ini sebagai tempat pemenuhan berbagai kebutuhan spiritual dan material.
Dusun Mojan, Klungkung – Ditemukan makam enam bujhu’ yang terkait dengan berbagai keahlian, termasuk seni, komunikasi, dan strategi, menunjukkan keberadaan komunitas intelektual di masa lalu.
Potensi dan Tantangan Pelestarian Budaya
Sarasehan juga menyoroti pentingnya pelestarian situs budaya dan arkeologi di Jember, yang hingga kini belum memiliki Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) sesuai dengan UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dari hampir 400 Obyek Diduga Cagar Budaya (ODCB) di wilayah Jember, banyak yang belum terdaftar secara resmi, sehingga rentan terhadap kerusakan dan kehilangan nilai sejarahnya.

Selain itu, belum adanya fasilitas edukasi seperti museum daerah atau pusat ekskavasi menjadi tantangan dalam upaya dokumentasi dan konservasi peninggalan budaya. Pemerintah daerah diharapkan dapat mengambil langkah strategis untuk melindungi warisan budaya ini, termasuk membentuk TACB dan menerapkan kebijakan sesuai UU Cagar Budaya dan UU Pemajuan Kebudayaan.

Sarasehan Ekologi Budaya Hyang Argopuro menegaskan bahwa kawasan ini memiliki nilai sejarah, spiritual, dan ekologis yang luar biasa. Jejak Mandala Kedewaguruan di Argopuro menjadi bukti bahwa pendidikan dan sistem spiritual telah menjadi bagian penting dalam peradaban Nusantara. Upaya pelestarian harus dilakukan secara serius agar warisan ini tetap lestari bagi generasi mendatang.

(Catatan ini disusun berdasarkan materi yang dipresentasikan oleh pemateri Imam Jazuli dalam sarasehan Ekologi Budaya Hyang Argopuro ) . (Tlp.srutan)