Ronjengan (lesung penumbuk Padi)

Jan 23, 2021 05:01 · 6 tahun lalu
 1968
Ronjengan  (lesung penumbuk Padi)
Ronjengan

Ronjengan dalam bahasa Jawa disebut juga dengan Lesung. Lesung merupakan alat tradisional untuk mengolahan padi yang telah dipanen atau yang disebut dengan gabah untuk menjadi beras. Fungsi alat ini adalah memisahkan kulit gabah dari beras secara mekanik dengan cara ditumbuk.

Ronjengan ini adalah permainan musik yang khas di kalangan ibu-ibu petani Pulau Madura dalam menunjukkan kegembiraan dan rasa syukur mereka karena panen padi. Sambil menumbuk padi wanita-wanita petani itu mempermainkan gentongnya (alu) ke sisi ronjengan se­hingga menimbulkan suara. Karena berat gentong itu berbeda dengan yang lain, maka bunyi yang ditimbulkan berbeda pula. Ronjengan yang dipergunakan untuk bermain sambil menumbuh padi itu cukup menampung empat pasang penumbuk. Bunyi yang ditimbulkan oleh gentong-gentong (alu) yang epakotek (dipukul­kan) pada sisi ronjengan itu menimbulkan bunyi-bunyi yang bersi­fat menghibur kelelahan mereka. Sambil mempermainkan gentong- gentong para penumbuk padi, dapat menimbulkan bunyi yang beraneka ragam dan serasi, sehingga menguatkan mereka untuk menumbuk padi selama mungkin.

Ronjengan  ini tidak hanya dimainkan waktu panen, tapi juga saat selamatan, dimainkannya sesuai dengan sifat selamatan. Apabila dimainkan un­tuk selamatan perkawinan, maka permainan ini dilakukan pada malam hari, sedangkan untuk selamatan khitanan dapat dimain­kan pada pagi hari atau malam hari. Malah kadang-kadang pagi- pagi buta sudah dimainkan orang, bersamaan dengan disembelih- nya sapi untuk selamatan itu. Selain itu  ronjengan dapat pula dimainkan sewaktu-waktu, ada kematian, yang kegunaannya untuk memberitahu penduduk, akan tetapi dimainkan dengan ritme yang khusus.

Di beberapa wilayah pulau Madura kesadaran antar warga terasa sekali, misalnya jika terdengar suara “dung-dung” yang berasal dari pukulan gentong atau alu pada ronjengan mengajak menumbuk padi, maka akan berduyun-duyunlah mereka mendatangi suara itu. Begitu pula suara “dung-dung” bukan hanya untuk mengajak menumbuk padi, tetapi dapat pula suara itu sebagai pemberitahu­an bahwa ada salah seorang warga yang dapat musibah umpama­nya kematian. Di sinilah terlihat rasa solidaritas di antara warga masih terjalin dengan baik.