Kenangan Suparni pada Tiap Jengkal Pendapa Lawas

ND Vindriana

Oct 17, 2024 05:47 · 2 tahun lalu
 218
Kenangan Suparni pada Tiap Jengkal Pendapa Lawas
Doc. Kulonproject Bondowoso

Konon, Dhin Aju dikenal karena keramatnya. Banyak orang datang ke tempat ini untuk meminta bantuan seperti mencari orang yang hilang atau sekedar menuntaskan masalah. Tak heran, orang dahulu memang banyak memiliki kemampuan kanuragan. Kabarnya, apabila ilmu itu ditekuni oleh perempuan, keahliannya akan lebih titis.

Cerita itu diutarakan oleh Bu Suparni, abdi dalem Dhin Aju yang saat ini masih tinggal di rumah pendopo lawas. Menjadi abdi dalem adalah tradisi keluarga yang telah dilakukan sejak kakek buyutnya. Di Pendopo Lawas ini, ada lima abdi dalem dengan tugas yang berbeda-beda. Kalau ibunya, menghidangkan makanan dan menata piring. Dia biasa melihat ibunya memasak sop, bistik dan skutel untuk Dhin Aju.

Usianya kini 80-an. Sejak sekolah dasar, Bu Parni sudah bersama ibunya di pendapa lawas. Ketika Bu Parni hendak berangkat sekolah, Dhin Aju selalu menugaskan abdi dalem lainnya untuk mengantarkan ke sekolah naik sepeda ontel. Zaman itu, sepeda ontel masih menjadi kendaraan mewah. Begitu yang melekat di memori Bu Parni.

Setelah menikah, Bu Parni pindah ke paseban. "Kadisak paseban, tapi pasebanna tak sami sareng semangken, pasebana deri kajuh" (Di sana paseban, tapi pasebannya tidak sama dengan yang sekarang, kalau dulu paseban terbuat dari kayu). Kata Bu Parni sambil menunjuk ke arah halaman depan Yayasan. Di depan pendopo lawas terdapat tanah yang diwakafkan menjadi yayasan yatim piatu, dulunya tanah itu dibangun sebuah paseban yang biasa digunakan para pejabat pemerintah melakukan pertemuan.

Tak lama tinggal di paseban, Bu Parni kembali ke pendopo lawas setelah Dhin Aju meninggal di tahun 1988. Semenjak itu, Bu Parni secara total mengabdikan diri sampai saat ini. Tidak ada keturunan Dhin Aju yang tinggal di pendopo lawas, hampir semua keturunannya berada di luar kota. Jadi sehari-harinya dia tidak lagi melayani melainkan menjaga dan merawat peninggalan Dhin Aju. Sebagai tambahan Bu Parni juga berjualan kue dan camilan.

Terdapat beberapa pendopo lawas di Bondowoso milik keturunan Ki Ronggo ( Raden Bagus Assra). Bu Parni menyayangkan, pendopo lawas lainnya tidak terjaga dengan benar. Seperti pendopo lawas yang berada di Gg. Patih Jl. RE Martadinata, barang-barang asli di dalamnya banyak yang dijual. Mirisnya lagi, nasib pendopo lawas di belakang Gelanggang Olahraga. Lokasi pendopo lawas yang berada di pinggir jalan dan dekat alun-alun kota itu, saat ini disulap kapitalisme menjadi Supermarket. Satu lagi pendopo lawas yang disebutkan Bu Parni lokasinya di Sekar Putih, Tegalampel, saat ini menjadi apotek.

Berbeda dengan kondisi pendopo lawas yang dirawat oleh Bu Parni, bangunan dan barang-barangnya masih menampakkan keaslian suasana peninggalan Dhin Aju sebagai keturunan terakhir yang menempati pendopo lawas. Bu Parni betul-betul menjaga amanat, dia bahkan tidak berani tidur di kamar utama dan menyentuh pakaian-pakaian Dhin Aju di dalam lemari. Semua perabotan tak banyak menyentuh nuansa modern. Sprei dan taplak meja juga masih asli milik puannya.

Pendopo lawas ini sempat diminta untuk dijadikan museum tetapi pihak keluarga tidak mengizinkan. Alasannya, karena pihak keluarga masih mampu merawat pendopo lawas ini. Tempat yang menyimpan nilai sejarah ini tentu membutuhkan banyak kerjasama, terutama pihak keluarga. Beruntung tempat ini, mereka masih mempertahankan arsitektur dan interior secara utuh. Bu Parni sebagai orang yang diamanati untuk merawat tempat ini juga percaya bahwa menjual barang dari tempat ini bukan menjadikannya semakin kaya atau semakin senang tapi akan semakin melarat.

Bu Parni tak hanya merawat yang fisik, dia kerap melakukan selametan satu tahun sekali yang ditujukan untuk mengirim doa para leluhur. Di hari tertentu, Bu Parni juga meneruskan kegiatan tradisi dari pemilik rumah yang dikhususkan pada dhanyang atau para penjaga. Kata Bu Parni, penjaganya macan hitam dan macan putih. Setiap malam jumat manis, dia melakukan selametan sederhana dan menaruh sebagian sajian di undak-undak belakang.

Bu Parni sangat menghormati Dhin Aju. Dalam ingatan Bu Parni, Dhin Aju selalu memakai kebaya dan sewek. Apabila berbicara dengan sesama ningrat, Dhin Aju akan menggunakan Bahasa Belanda. Dhin Aju itu sendiri adalah sebutan bagi kaum ningrat. Panggilan itu berasal dari Raden Ayu, jika dilafalkan ke Bahasa Madura menjadi Dhin Aju. Perempuan yang konon dikenal keramatnya itu, mempunyai nama asli Raden Ayu Atirah Suryodipuro. Dia meninggal karena penyakit di usia 80-an.

ND Vindriana adalah seorang penulis dan pegiat kolektif Kulon Project Bondowoso