LOMBA KULINER DAN BAZAR UMKM MERIAHKAN JEMBER, ANGKAT POTENSI LOKAL EDAMAME
Jember, 13 April 2025 – Upaya untuk mengangkat potensi lokal Jember terus dilakukan lewat kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Salah satunya adalah penyelenggaraan Lomba Kuliner Kampung dan Bazar UMKM, yang berlangsung meriah di lingkungan Kampung Budaya Jember. Tak hanya sebagai ajang unjuk kreativitas, kegiatan ini juga menjadi ruang kolaboratif antara pelaku UMKM, masyarakat, dan pecinta budaya tradisional.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian acara Grebeg Budaya Kampung Jember, sebuah program berbasis komunitas yang didanai oleh Dana Indonesiana – dana hibah pemerintah pusat yang mendukung inisiatif kebudayaan lokal di seluruh Indonesia. Seluruh rangkaian acara ini dikelola oleh Catur Budi Prasetya bersama tim Balai RW Institute, yang secara aktif membangun ruang-ruang partisipatif bagi masyarakat untuk mengenali dan mengembangkan kebudayaannya sendiri.
Kegiatan ini juga disponsori oleh Lembaga Keuangan PEGADAIAN CABANG JEMBER serta PT. MITRA TANI 27, Jember, produsen edamame lokal yang turut mendukung penyediaan bahan utama lomba kuliner. Keterlibatan dua pihak ini menjadi bentuk nyata kolaborasi antara pelaku ekonomi, pelaku budaya, dan masyarakat sipil untuk memajukan potensi lokal Jember.
Salah satu kegiatan yang paling menyita perhatian publik adalah Lomba Kuliner Kampung, yang tahun ini mengangkat tema "Kreasi Edamame". Edamame, yang selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas unggulan pertanian Jember, coba diolah menjadi beragam produk kreatif oleh para peserta lomba. Sebanyak 18 peserta yang berasal dari pelaku usaha kuliner rumahan, komunitas perempuan, hingga mahasiswa, menyajikan ragam hidangan edamame mulai dari menu tradisional seperti oseng edamame sambal petis, hingga inovasi modern seperti cookies edamame dan bolu kukus edamame.
Yang menarik, seluruh peserta lomba tidak dikenai biaya pendaftaran sedikit pun. Bahkan, seluruh bahan utama untuk memasak—termasuk edamame dan bahan pelengkap lainnya—disediakan secara gratis oleh panitia. Tak hanya itu, peserta juga mendapatkan berbagai fasilitas pendukung seperti alat masak, tenda, meja saji, hingga dokumentasi kegiatan secara cuma-cuma. Ini dilakukan sebagai bentuk komitmen penyelenggara untuk memberikan ruang yang setara dan inklusif bagi siapa pun yang ingin berpartisipasi.
"Edamame ini sangat potensial, bukan hanya dari sisi gizinya, tapi juga nilai pasarnya. Kita ingin masyarakat Jember, terutama UMKM, melihat peluang ini dan berinovasi," ujar Venny , penanggung jawab lomba kuliner, saat ditemui di sela acara.
Ia menjelaskan, lomba ini tidak sekadar mencari pemenang, melainkan juga mendorong munculnya ide-ide produk yang bisa menjadi oleh-oleh khas Jember. Selain itu, penilaian lomba pun melibatkan aspek ketahanan produk, daya tarik visual, dan narasi pemasaran yang mengandung unsur lokalitas.
Acara ini tidak hanya dihadiri oleh peserta dan panitia, tetapi juga menarik minat warga sekitar, wisatawan lokal, serta pegiat UMKM dari berbagai kecamatan di Jember. Selain lomba dan pertunjukan, bazar UMKM yang digelar bersamaan menampilkan produk-produk unggulan seperti kopi khas Jember, kerajinan tangan, batik lokal, hingga olahan hasil pertanian.
“Adanya lomba ini mendorong kami untuk membuat produk baru. Saya jadi ingin mengembangkan camilan edamame sebagai produk tetap,” ujar salah satu peserta dari Kelurahan Patrang.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya dan penguatan ekonomi lokal bisa berjalan beriringan. Melalui sinergi antara komunitas, sponsor lokal, dan masyarakat, Grebeg Budaya Kampung Jember diharapkan dapat terus berkembang sebagai model partisipatif pengembangan kebudayaan di tingkat lokal.
“Yang kita inginkan bukan sekadar acara seremonial, tapi dampak jangka panjang. Kalau dari sini lahir produk yang bisa dipasarkan ke luar kota, bahkan ke luar negeri, itu luar biasa,” tutup Venny , Ketua penanggungjawab Lomba.(Dwipa.Lingkar Budaya)
