Semarak Ketupat 1446 H di Desa Limehu: Kebersamaan, dan Harapan di Tengah Kemajuan Zaman

Apr 11, 2025 19:40 · 2 tahun lalu
 265
Semarak Ketupat 1446 H di Desa Limehu: Kebersamaan, dan Harapan di Tengah Kemajuan Zaman

Gorontalo : Masyarakat Desa Limehu, Kecamatan Tabongo, Kabupaten Gorontalo, kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga warisan budaya melalui perayaan Ketupat 1446 H yang digelar pada Senin, 7 April 2025. Acara yang diisi lomba panjat pinang dan tarik tambang ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga simbol persatuan warga pasca-Lebaran. Menariknya, meski dunia semakin modern, Desa Limehu justru memilih merawat tradisi dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Hal ini membuktikan bahwa kearifan lokal bisa tetap relevan jika dihidupkan dengan cara yang partisipatif dan menyenangkan.

Ketua Panitia, Rais Tahir, menjelaskan bahwa kegiatan ini telah menjadi "ritual sosial" yang dinanti warga setiap tahun. “Tradisi seminggu setelah Lebaran ini bukan sekadar lomba, tapi ruang untuk mengingatkan kita tentang pentingnya gotong royong,” ujarnya. Menurutnya, Meski panjat pinang hanya diikuti oleh 2 peserta, esensi dari lomba ini justru terletak pada proses persiapan dan kerja sama warga yang menyusun batang pinang serta menghiasnya. Di sisi lain, tarik tambang dengan 20 peserta dari berbagai kelompok usia menjadi bukti bahwa semangat kompetisi sehat masih bisa dijaga tanpa mengikis nilai kebersamaan. Patut diapresiasi bahwa desa ini tidak terjebak pada formalitas seremonial, tetapi benar-benar melibatkan warganya secara aktif.

Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah partisipan yang mencapai 150 orang, baik sebagai peserta, panitia, maupun penonton. Suasana riuh rendah sorak penyemangat mewarnai arena tarik tambang, sementara gelak tawa pecah saat para peserta panjat pinang berjuang mencapai puncak batang licin. Fenomena ini menunjukkan bahwa di era digital, interaksi langsung dan kegembiraan kolektif tetap menjadi kebutuhan manusia yang tak tergantikan. Sayangnya, acara semacam ini seringkali hanya eksis di pedesaan, sementara kota-kota besar semakin kehilangan ruang untuk tradisi serupa. Desa Limehu justru memberikan contoh nyata bahwa modernitas dan budaya bisa berjalan beriringan.

Kehadiran anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Abdul Ghalieb Lahidjun, SE. MM, turut memberi warna dalam acara ini. Ia menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap kegiatan yang membangun karakter masyarakat. “Ini investasi sosial jangka panjang. Ketika anak-anak melihat orang tua mereka bersatu dalam lomba, mereka belajar tentang nilai kebersamaan tanpa perlu teori,” ucapnya. Namun, di balik dukungan ini, publik perlu kritis: sejauh mana pemerintah benar-benar mengalokasikan anggaran untuk melestarikan tradisi semacam ini?

Tokoh masyarakat setempat, Halid Lawuo, menyuarakan harapan agar variasi lomba ditambah di tahun-tahun mendatang. “Kami ingin melihat inovasi, misalnya lomba kreatif berbasis lingkungan atau kuliner tradisional,” katanya. Gagasan ini patut didukung, sebab diversifikasi kegiatan bisa menarik minat generasi muda yang mungkin kurang tertarik dengan lomba fisik. Namun, perlu diingat bahwa inovasi harus tetap berakar pada kearifan lokal agar tidak kehilangan identitas. Misalnya, lomba daur ulang sampah yang dikemas dengan cerita tradisional atau kompetisi masakan ketupat dengan rempah khas Gorontalo. Dengan demikian, tradisi tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dikembangkan sesuai kebutuhan zaman.

Dari sisi budaya, acara ini menjadi cermin resistensi masyarakat terhadap individualisme yang mengglobal. Di saat banyak daerah mulai melupakan tradisi pasca-Lebaran, warga Limehu justru menjadikannya momentum untuk memperkuat jaringan sosial. Ritual panjat pinang, meski terlihat sederhana, sesungguhnya sarat filosofi: perjuangan kolektif untuk mencapai tujuan, di mana keberhasilan satu orang adalah hasil dukungan banyak pihak. Nilai ini seharusnya menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat pondasi sosial-budaya.

Penutupan acara berlangsung dengan penyerahan hadiah kepada pemenang lomba, diselingi janji untuk kembali menyelenggarakan kegiatan yang lebih meriah di tahun depan. Namun, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi. Banyak desa yang semangat di tahun pertama, tetapi pelan-pelan kehilangan gairah karena minimnya regenerasi panitia atau kurangnya dukungan dana. Desa Limehu perlu mencatat ini sebagai pembelajaran. Jika pemerintah daerah dan masyarakat bisa bersinergi—misalnya dengan membentuk kelompok kerja budaya atau melibatkan sekolah-sekolah—bukan tidak mungkin acara ini akan menjadi ikon wisata budaya Gorontalo. Semoga semangat Ketupat 1446 H ini tidak padam, tetapi justru menjadi api yang menyulut kecintaan generasi muda pada akar budayanya sendiri.

Laporan: Tim Dokumentasi Desa Limehu, Suparto K. Timbuli