Grebeg Budaya Kampung: Kesenian Kejung dan Edamame, Objek Pemajuan Budaya Jember yang Menunggu Kesungguhan Pemerintah Daerah.
JEMBER 13 April 2025 – Di tengah gegap-gempita modernisasi dan derasnya arus budaya luar, masyarakat Jember kembali menunjukkan bahwa mereka masih memiliki akar yang kuat dalam tradisi dan potensi lokal. Hal itu tampak dalam gelaran Grebeg Budaya Kampung yang berlangsung di kawasan Pasar Tanjung—sebuah ruang yang pernah menjadi nadi kesenian rakyat, kini perlahan dihidupkan kembali oleh inisiatif komunitas, dengan dukungan Dana Indonesiana dan LPDP.
Direktur Grebeg Budaya Kampung, Catur Budi Prasetya menyuarakan kerinduan yang sudah lama tertahan. Salah satunya adalah terhadap kesenian kejung, bentuk pertunjukan rakyat yang dulu akrab menghiasi malam-malam Pasar Tanjung. Kini, melalui kerja kolektif komunitas, kesenian tersebut kembali dipanggil dari tidur panjangnya.
"Kalau kejung itu memang kesenian. Dulu tiap malam di Pasar Tanjung ada lengger dan kejung. Kita undang lagi para pekejung, ternyata mereka semua antusias. Tapi sayangnya, selama ini belum ada sentuhan nyata dari sektor pariwisata atau pemerintah," ungkap Didit, Sabtu (13/4).
Di sisi lain, lomba kuliner yang menjadi bagian dari acara juga memperkenalkan pendekatan baru terhadap bahan lokal: edamame. Jember dikenal sebagai salah satu produsen edamame terbesar di Indonesia, namun selama ini hasil pertanian itu lebih banyak diekspor mentah ketimbang diolah menjadi produk kreatif di daerah asalnya.
“Kalau dulu orang tahunya tape, sekarang kita coba bikin inovasi dari edamame. Banyak yang ternyata bisa diolah, dan ini bisa jadi peluang besar untuk UMKM,” tambah Didit , panggilan Akrab Catur Budi Prasetya.
Yang menjadi sorotan dalam acara ini bukan hanya semangat kolektif warga, tetapi juga dukungan struktural yang berkesinambungan dari pemerintah kabupaten. Saat masyarakat sudah memulai langkah konkret untuk merawat warisan budaya dan ekonomi lokal, perlu adanya dukungan Pemkab Jember untuk hadir lebih dari sekadar simbolik.
Kegiatan seperti Grebeg Budaya Kampung seharusnya tidak berhenti pada euforia sesaat. Ia butuh dukungan kebijakan, penganggaran, dan pengakuan resmi dalam dokumen perencanaan daerah. Warisan seperti kesenian kejung bukan sekadar tontonan nostalgia, tapi dapat menjadi daya tarik wisata budaya jika dikelola secara strategis. Begitu pula edamame—bisa menjadi ikon kuliner khas Jember jika pemerintah berani membangun ekosistem pengolahan dan pemasaran yang berpihak pada pelaku lokal.
“Kami berharap, setelah ini, bisa duduk bareng dengan pemangku kebijakan. Agar apa yang kita mulai ini tidak berhenti di tengah jalan,” kata Didit menutup pembicaraan.
Kini, harapan pemajuan ada di tangan Pemkab Jember. Apakah mereka siap menyambut langkah rakyatnya dengan keberpihakan nyata, atau membiarkan energi kolektif ini kembali padam seperti kejung yang dulu pernah sunyi? (ers.Lingkarbudaya)
