Ruwatan Gamelan Kuno di Bawah Gunung Raung
Ruwatan Gamelan Sekenyar
: meruwat tradisi, meruwat bumi
Beberapa orang berpakaian adat berdiri di dekat pintu. Mereka tengah menunggu tetua desa untuk memulai prosesi ruwat gamelan. Beberapa menit kemudian, tetua desa yang diwakili oleh bapak kepala desa datang. Ritual pun dimulai. Diawali dengan pembacaan mamacah(kitab kuno semacam macapat), lalu penyiraman sepasang Gong dan beberapa gamelan. Lalu ditutup dengan doa dan pembagian air hasil siraman yang diyakini oleh sebagian besar masyarakat memiliki tuah. Demikian proses ruwat Gamelan Sekenyar, sebuah peninggalan budaya di desa Tegal Jati, Sumber Wringin, Bondowoso.
Prosesi ruwat gamelan yang dikemas sedikit dramatikal ini adalah acara tahunan yang sudah berlangsung turun temurun. Gamelan se kenyar merupakan nama sepasang gong yang dikenal sakral dan diyakini memiliki tuah oleh sebagian besar masyarakat Tegal Jati. Konon, gamelan ini ditemukan oleh Buju' Sanur di tengah persawahan di saat ia sedang membajak sawahnya. Menariknya, gamelan ini ditemukan berkat petunjuk dari kerbau yang ia gunakan untuk membajak. Gamelan ini kemudian diwariskan kepada anak turunannya. Penjaga gamelan saat ini adalah generasi keempat dari keturunan Buju' Sanur.
Ada banyak cerita unik di sekitar gamelan Sekenyar ini yang dipercayai kebenarannya oleh masyarakat. Seperti larangan memukul sembarangan karena nyaringnya bunyi gamelan bisa terdengar sampai jarak ratusan kilometer. Atau bunyinya yang nyaring bisa berakibat lahirnya kandungan perempuan yang tengah hamilĀ tua ketika itu. Dan banyak lagi cerita-cerita unik lainnya.
Acara ruwat gamelan Sekenyar yang diiringi penabuhan ini menjadi simbol pengharapan untuk keselamatan bumi, terutama lahan pertanian. Bunyi tabuhan diibaratkan dengan bunyi-bunyian yang biasa dibuat oleh petani untuk mengusir burung-burung di sawah. Tabuhan gamelan ini juga simbol rasa syukur dari petani untuk hasil pertanian yang melimpah. Seperti pada umumnya pesta tasyakuran hasil pertanian yang disemarakkan dengan bunyi tabuhan-tabuhan gamelan. Bagi sebagian besar masyarakat, acara semacam ini seperti alarm pengingat bahwa ada warisan-warisan leluhur yang harus dijaga dan terus dirawat.
Bondowoso, 2020
