Beto Labeng , Banyuputih
Banyuputih merupakan sebuah desa yang berada di kabupaten bondowoso bagian utara yakni di kecamatan Wringin. Di Desa yang damai dan tentram inilah terdapat situs megalitikum yang luar biasa yang disebut Beto labeng atau Watu lawang( batu berbentuk pintu)
Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur (BPCB Jawa Timur), pada tahun 1980-an memberikan nomor registrasi dan mengesahkan sebagai salah satu peninggalan dari zaman megalithikum. Batu ini Ini merupakan menhir; salah satu peninggalan zaman kuno megalithikum. Menhir raksasa ini disebut dengan watu lawang dalam bahasa Jawa atau betho labeng dalam bahasa Madura. Disebut demikian karena susunan 3 batu raksasa ini menyerupai pintu, Selain menyerupai pintu watu lawang tersebut juga memiliki keunikan lain yaitu dimana ditengah-tengah batu tersebut terdapat sebuah celah, yang mana sinar matahari terbit tepat terpancar ditengah celahnya.Betho labeng ini berdiri tegak secara tunggal (monolit) yang tersusun dari 3 batu sangat besar, yang miliki panjang 7,2 meter, lebar 5 meter dan tinggi 7,5 meter. Watu lawang terbuat dari batu andesit dari letusan gunung Argopuro. Watu lawang ini didirikan sebagai tempat penghormatan terhadap roh nenek moyang serta tempat berdoa , dan sebagai penanda untuk musim tanam. Budaya kuno pemujaan terhadap roh suci leluhur/arwah nenek moyang melalui bentuk-bentuk megalitik(batu besaar) diciptakan sebagi medium penghormatan, bertujuan untuk memelihara hubungan yang harmonis antara dunia arwah, dan masyarakat pendukungnya guna memohon perlindungan, kesuburan dan keselamatan. Banyuputih merupakan wilayah kuno tempat budaya pemujaan ini berkembang.
