Puisi-puisi NurKaha
MERDEKA KITA
dor, dor, dor amarah peluru. blam, blam, blam geram murka granat terakhir terhenti
ketika para perampas tanah ini telah tertekuk lututnya
para manusia merdeka terdahulu (tentu kalian belum lupa)
berlari sekencang-kencangnya, bersembunyi menolak menjadi siapa
kibar merah putih kembali lagi melanglang gunung, lembah, melayar gisik samudera
berkelebat di tiang-tiang tertinggi, di gang-gang desa kota
melintaskan babad berabad-abad pada angin
tentang keserakahan dan pengkhianatan di awal mula
tentang luka, darah dan hutang nyawa yang belum kita bayar
manusia-manusia merdeka di bawah nisan-nisan tanpa nama dan bernama
langit telah mengenali dan menjawabnya
kalian yang terkenal memiliki nama, sudahkah langit mengenalimu?
kalaulah busung lapar
tidak membuat yang duduk di kursi membuka mata
kalaulah kelaparan pencuri kakao di tanah negara
tidak membuat yang duduk di kursi membuka telinga
kalaulah sejengkal demi sejengkal tanah kita dikangkangi keserakahan
tidak membuat yang duduk di kursi membuka hati
dor, dor, dor
tembak, tembak, tembakki musuh agar tak kembali
anakmu beranak, cucumu bercucu
nusantara, sudahkah merdeka?
merdeka kita merdeka
kita merdeka dalam jiwa merdeka
NurKaha. Bws. Agustus 2024
TERMANGU DI GERBONG MAUT
gerbong pengap merayap parau
raga-raga berhimpit layu
pergi tak kembali
jiwanya telah merdeka membebaskan tanah anak cucunya
lihatlah gerbong maut itu, kaislah kemerdekaanmu
walaupun pada prasasti
dan nisan-nisan yang tertancap tidak ada namamu
NurKaha. Bws. Agustus 2024
PELANGI EUCALYPTUS DEGLUPTA
Eucalyptus deglupta berjajar mencakar langit
Kaki-kakinya mencengkeram bumi
O….ada pelangi yang menyelimuti
Lihatlah, merah, kuning, hijau, biru dan jingga
melekati pori-pori eucalyptus deglupta di hutan ini
matamu mata terpana, tertuba pesona
datangilah, pandangilah!
desir angin hutan pelangi eucalyptus deglupta akan mengusir nestapamu
kicauan merajuk hati kukila akan melunturkan luka laramu
Datangilah, hampirilah!
Lihatlah puncak-puncak hutan pelangi eucalyptus deglupta itu
dia akan mengajarkan cara menengadahiNya
Datangilah, hampirilah!
Sandarkan dirimu pada batang-batang hutan pelangi eucalyptus deglupta itu
Dia akan membisikkan apa arti kekerdilan
Datangilah! hampirilah!
Tanyailah saban barisan pelangi eucalyptus deglupta itu
Dia akan memberitahu tentang kabar purba ratusan tahun lalu
NurKaha. SBR. Maret 2021
ADAKAH YANG SEDANG JATUH CINTA?
Ketika ditanya tentang cinta, Ia menjawab:
“Rupa awal cinta adalah ingat terus tak putus-putus”
“Rupa pertengahan cinta adalah menikmati zat yang diingat”
“Rupa ujung cinta adalah hanya melihatNya”
Ketika ia menikmatiNya, empat puluh bidadari itu mendatanginya, “Lihatlah mereka!”
Dilihatnya. Tiba-tiba ia telah terkurung tertutup tak lagi menikmatiNya empat puluh hari lamanya.
Empat puluh bidadari mendatanginya lagi berlipat delapan puluh, “Lihatlah mereka!”
Ia bersimpuh air mata meletakkan kepala ke tanah: “Hamba hanya ingin melihatNya”
Adakah yang sedang jatuh cinta?
Bondowoso. 2021
PENGAKU PURA-PURA
kau telah tidak menjaga satu cahaya
bagaimana mungkin kau dipercaya mengaku menjaga rahasia cahaya
kau belum memadamkan murka, dengki dan dendam
bagimana mungkin kau dipercaya mengaku hanya menyaksikan perbuatanNya
kau belum menyatui dan memancarkan cahaya
bagaimana mungkin kau dipercaya mengaku mengajarkan cahaya
pengaku itu pergi setelah berpura-pura
dia belum menerimaNya
NurKaha. 2021
PENERIMAAN PENGAKU
di garis ini kau belum kokoh
mengapa terburu-buru mengaku
sebelum Yusuf menawarkan diri menjaga kekayaan bumi
ia telah dicebur sumur, membudak, menolak Zulaika, dan direnggut giris penjara
di garis ini kau belum kokoh
mengapa sama-samar mengaku
Bukit Thursina malu menawarkan diri untuk percakapan Musa
Bukankah bukit lainnya tersisih, diberai pengakuan
tetapilah, kokohilah sampai dirimu menjadi pewaris
pengaku itu tak lagi pergi
ia menerima, menunggu perintah dan izinNya
NurKaha. 2021
ORANG BESAR DAN CAHAYA
Orang besar itu setiap malam bermandikan cahaya
Di punggungnya ada bekas tikar
Baginya emas dan batu telah terlihat sama
Orang besar itu membela cahaya
Tubuhnya didera duka penjara
“Aku tak akan berhenti sebelum kakiku menginjak surga”
Orang besar itu telah memberikan berlipat cahaya
Tanpa memberi nama
Setelah diberi kesakitan, kesedihan, kegundahan, dan kedukaan
Orang besar itu berdiri tegak menyaksikan cahaya
Pakaian lusuhnya melihatkan perjalanan jauh
Sentakan cahaya telah menghunjamnya dan direngkuhnya
Orang besar itu menebarkan cahaya bermusim-musim
Telah lupa diri menggilai hantaran cahaya
Hasratnya luluh dalam suluh patuh
Orang besar itu mati-matian mempertahankan cahaya
Dari gelagat golak kegelapan
Ketakutannya telah mati demi mereksa cahaya
Orang besar itu menghujankan cahaya ke segala penjuru
Ronta jiwa-jiwa terpuruk selalu memanggil-manggilnya
Dia menghancurkan dirinya menjadi kilat cahaya memenuhinya
Orang besar itu membagi-bagikan cahaya
Dengan merampas kemerdekaan dirinya
Demi meruakkan para laki-laki pilihan memijah cahaya ke semesta
Orang besar itu menangisi cahaya
Dia pernah ke surga hampir mengawini bidadari
Dia terus terjaga menangisi mahar cahaya akhir malamnya yang terlupa
Orang besar itu menundukki Cahaya
setunduk-tunduk lumpuh tak berani tengadah
terguguk bahagia, hatinya jenjam bungah terterpa haibah
Orang besar itu melindungi Cahaya di pangkuannya
Sengatan ular berbisa pecinta yang ingin melihat Cahaya
dia tahan dengan cucuran air mata, tak beringkah barang sejengkal
cintanya hanya menyisakan cinta untuk kekasih Cahayanya
Orang besar itu diam-diam sendirian di malam-malam memikul cahaya
Meletakkannya di seratus pintu kaum papa di sudut-sudut kota
Dia dikenal selepas tiada, di pundaknya ada legam hitam tilas pikulan
ketika para papa telah menjadi peminta-minta
Orang besar itu telah menerima semua cahaya
dirinya dirindui cahaya-cahaya untuk mendepaninya
cahaya terakhir yang memasuki seluruh lapisan cahaya
memenuhi panggilan Cahaya di atas Cahaya
NurKaha. 2021
NurKaha adalah nama pena dari Nurkholis. Tinggal di Bondowoso. Pengajar di STAI Sayyid Muhammad Alawy Al Maliki di Bondowoso dari tahun 2010 hingga sekarang. Aktif menulis dan kegiatan kajian keagamaan, kebudayaan dan sastra, kemasyarakatan dan organisasi profesi. Buku karya puisi terbarunya adalah Metamorfosis Air (2022)
