Puisi-puisi NurKaha

Aug 6, 2024 16:18 · 2 tahun lalu
 302
Puisi-puisi NurKaha

MERDEKA KITA

dor, dor, dor amarah peluru. blam, blam, blam geram murka granat terakhir terhenti

ketika para perampas tanah ini telah tertekuk lututnya
para manusia merdeka terdahulu (tentu kalian belum lupa)

berlari sekencang-kencangnya, bersembunyi menolak menjadi siapa

 

kibar merah putih kembali lagi melanglang gunung, lembah, melayar gisik samudera

berkelebat di tiang-tiang tertinggi, di gang-gang desa kota

melintaskan babad berabad-abad pada angin

tentang keserakahan dan pengkhianatan di awal mula

tentang luka, darah dan hutang nyawa yang belum kita bayar

 

manusia-manusia merdeka di bawah nisan-nisan tanpa nama dan bernama

langit telah mengenali dan menjawabnya

kalian yang terkenal memiliki nama, sudahkah langit mengenalimu?

 

kalaulah busung lapar

tidak membuat yang duduk di kursi membuka mata

kalaulah kelaparan pencuri kakao di tanah negara

tidak membuat yang duduk di kursi membuka telinga

kalaulah sejengkal demi sejengkal tanah kita dikangkangi keserakahan 

tidak membuat yang duduk di kursi membuka hati

 

dor, dor, dor

tembak, tembak, tembakki musuh agar tak kembali

anakmu beranak, cucumu bercucu

nusantara, sudahkah merdeka?

 

merdeka kita merdeka

kita merdeka dalam jiwa merdeka 

NurKaha. Bws. Agustus 2024

 

TERMANGU DI GERBONG MAUT

 

gerbong pengap merayap parau

raga-raga berhimpit layu

pergi tak kembali

 

jiwanya telah merdeka membebaskan tanah anak cucunya

 

lihatlah gerbong maut itu, kaislah kemerdekaanmu

walaupun pada prasasti

dan nisan-nisan yang tertancap tidak ada namamu 

                                                NurKaha. Bws. Agustus 2024

  

PELANGI EUCALYPTUS DEGLUPTA

 

Eucalyptus deglupta berjajar mencakar langit

Kaki-kakinya mencengkeram bumi

O….ada pelangi yang menyelimuti

Lihatlah, merah, kuning, hijau, biru dan jingga

melekati pori-pori eucalyptus deglupta di hutan ini

matamu mata terpana, tertuba pesona

 

datangilah, pandangilah!

desir angin hutan pelangi eucalyptus deglupta akan mengusir nestapamu

kicauan merajuk hati kukila akan melunturkan luka laramu

 

Datangilah, hampirilah!

Lihatlah puncak-puncak hutan pelangi eucalyptus deglupta itu

dia akan mengajarkan cara menengadahiNya

 

Datangilah, hampirilah!

Sandarkan dirimu pada batang-batang hutan pelangi eucalyptus deglupta itu

Dia akan membisikkan apa arti kekerdilan

 

Datangilah! hampirilah!

Tanyailah saban barisan pelangi eucalyptus deglupta itu

Dia akan memberitahu tentang kabar purba ratusan tahun lalu

                                                                             NurKaha. SBR. Maret 2021

 

ADAKAH YANG SEDANG JATUH CINTA?

 

Ketika ditanya tentang cinta, Ia menjawab:

“Rupa awal cinta adalah ingat terus tak putus-putus”

“Rupa pertengahan cinta adalah menikmati zat yang diingat”

“Rupa ujung cinta adalah hanya melihatNya”

 

Ketika ia menikmatiNya, empat puluh bidadari itu mendatanginya, “Lihatlah mereka!”

Dilihatnya. Tiba-tiba ia telah terkurung tertutup tak lagi menikmatiNya empat puluh hari lamanya.

 

Empat puluh bidadari mendatanginya lagi berlipat delapan puluh, “Lihatlah mereka!”

Ia bersimpuh air mata meletakkan kepala ke tanah: “Hamba hanya ingin melihatNya” 

 

Adakah yang sedang jatuh cinta?

 

Bondowoso. 2021

 

PENGAKU PURA-PURA

kau telah tidak menjaga satu cahaya

bagaimana mungkin kau dipercaya mengaku menjaga rahasia cahaya

 

kau belum memadamkan murka, dengki dan dendam

bagimana mungkin kau dipercaya mengaku hanya menyaksikan perbuatanNya

 

kau belum menyatui dan memancarkan cahaya

bagaimana mungkin kau dipercaya mengaku mengajarkan cahaya

 

pengaku itu pergi setelah berpura-pura

dia belum menerimaNya 

NurKaha. 2021

 

PENERIMAAN PENGAKU

 

di garis ini kau belum kokoh

mengapa terburu-buru mengaku

sebelum Yusuf menawarkan diri menjaga kekayaan bumi

ia telah dicebur sumur, membudak, menolak Zulaika, dan direnggut giris penjara

 

di garis ini kau belum kokoh

mengapa sama-samar mengaku

Bukit Thursina malu menawarkan diri untuk percakapan Musa

Bukankah bukit lainnya tersisih, diberai pengakuan

tetapilah, kokohilah sampai dirimu menjadi pewaris

 

pengaku itu tak lagi pergi

ia menerima, menunggu perintah dan izinNya

 

NurKaha. 2021

  

ORANG BESAR DAN CAHAYA

 

Orang besar itu setiap malam bermandikan cahaya

Di punggungnya ada bekas tikar

Baginya emas dan batu telah terlihat sama

 

Orang besar itu membela cahaya

Tubuhnya didera duka penjara

“Aku tak akan berhenti sebelum kakiku menginjak surga”

 

Orang besar itu telah memberikan berlipat cahaya

Tanpa memberi nama

Setelah diberi kesakitan, kesedihan, kegundahan, dan kedukaan

 

Orang besar itu berdiri tegak menyaksikan cahaya

Pakaian lusuhnya melihatkan perjalanan jauh

Sentakan cahaya telah menghunjamnya dan direngkuhnya

 

Orang besar itu menebarkan cahaya bermusim-musim

Telah lupa diri menggilai hantaran cahaya

Hasratnya luluh dalam suluh patuh

 

Orang besar itu mati-matian mempertahankan cahaya

Dari gelagat golak kegelapan

Ketakutannya telah mati demi mereksa cahaya

 

Orang besar itu menghujankan cahaya ke segala penjuru

Ronta jiwa-jiwa terpuruk selalu memanggil-manggilnya

Dia menghancurkan dirinya menjadi kilat cahaya memenuhinya

 

Orang besar itu membagi-bagikan cahaya

Dengan merampas kemerdekaan dirinya

Demi meruakkan para laki-laki pilihan memijah cahaya ke semesta

 

Orang besar itu menangisi cahaya

Dia pernah ke surga hampir mengawini bidadari

Dia terus terjaga menangisi mahar cahaya akhir malamnya yang terlupa

 

Orang besar itu menundukki Cahaya

setunduk-tunduk lumpuh tak berani tengadah

terguguk bahagia, hatinya jenjam bungah terterpa haibah 

 

Orang besar itu melindungi Cahaya di pangkuannya

Sengatan ular berbisa pecinta yang ingin melihat Cahaya

dia tahan dengan cucuran air mata, tak beringkah barang sejengkal

cintanya hanya menyisakan cinta untuk kekasih Cahayanya

 

Orang besar itu diam-diam sendirian di malam-malam memikul cahaya

Meletakkannya di seratus pintu kaum papa di sudut-sudut kota

Dia dikenal selepas tiada, di pundaknya ada legam hitam tilas pikulan

ketika para papa telah menjadi peminta-minta

 

Orang besar itu telah menerima semua cahaya

dirinya dirindui cahaya-cahaya untuk mendepaninya

cahaya terakhir yang memasuki seluruh lapisan cahaya

memenuhi panggilan Cahaya di atas Cahaya

 

NurKaha. 2021

NurKaha adalah nama pena dari Nurkholis. Tinggal di Bondowoso. Pengajar di STAI Sayyid Muhammad Alawy Al Maliki di Bondowoso dari tahun 2010 hingga sekarang. Aktif menulis dan kegiatan kajian keagamaan, kebudayaan dan sastra, kemasyarakatan dan organisasi profesi. Buku karya puisi terbarunya adalah Metamorfosis Air (2022)