Puisi-puisi Kusni Sulang
PERCUMA MENGAKU DAYAK
percuma mengaku dayak
jika hanya bisa menadah tangan
mengais-ngais belas kasihan
sudah bangga tugas penjinjing tas
untuk dua-tiga juta sebulan
kampung ini akan tetap saja terpuruk
sungai-sungai menjejerkan rumah-rumah kumuh penduduk
apabila kita mati selagi hidup
kekumuhan ini berawal dari kekumuhan jiwa
berawal dari jiwa-jiwa mati
percuma mengaku dayak
jika tidak bisa membaca
tak bisa menghitung hari ini
tidak bisa membaca isyarat langit
untuk merajut esok bermatahari
jiwa yang kumuh
ditunggu kehancuran
jiwa yang mati
dinanti kehilangan
maka aku bertanya:
siapa namamu?
kau jualkah rohmu
kau jual berapa?
kalau begitu
percuma kau menjadi dayak
aku tak bertanya tentang pangkat
apakah kolonel, jenderal
gubernur, sekda atau kepala dinas
satpam atau opas
jabatan bukan jaminan dayak panarung
apalagi pencinta tangguh orang sekampung []
LAHAP MENJAWAB KEPINCANGAN
TANAH KELAHIRAN
kepincangan masih banyak terdapat di kampung ini. tidak selesai dalam hitungan hari sekalipun kapak dan beliung kita berdentang-dentang menggemuruhi siang-malam. menggoncangkan bulan dan matahari serta pinggir-pinggir cakrawala
kepincangan seluas pulau ini mencari panarung dan dayak
mencari kita
mencari kalian
kepincangan-kepincangan itu adalah hantu yang jika tertikam bangkainya akan melahirkan seribu anak melanjutkan gangguan. pencinta tulen olehnya dilarang lelah apalagi putus asa dan menyerah. kepincangan itu batu asah kesetiaan cinta menakar kadar kata.
kepincangan dari waktu ke waktu membuat tubuh dan jiwa hidup kita cacat, berjalan terseok-seok terkadang terjerembab jatuh. kita, kau dan aku yang menggulati malam, lumpur dan terik kekumuhan adalah satu kaki yang cacat itu.
aku dayak datang ke saran danum kalunen dari saran danum sangiang
dengan misi ilahi memanusiawikan bumi, gunung dan laut
lololololooooo …kueeeeee! kalau kau dengar lahap keteguhan panarung
pengemban misi ilahi ini
kalau kau lihat lawung bahandang melilit kepala, mandau terselempang di pinggang
mata menyala menarung duka, boleh jadi kau pun tahu aku masih dayak setia
sesetia dahoeloe pada mimpi yang tak pernah renta: menjadi manusia
aku bertanya: yang dayak dan yang senasib dengan dayak
bisakah masih kalian memekikkan tujuh lahap sebagai manusia pelaga?
tujuh kali memekikkannya bersamaku tanda kita masih manusia berharkat
tanda kita bukan turunan budak tapi dipercayakan untuk jadi tuan bumi
lolololololo……kueeeeeee, lolololololo……kueeeeeee, ;olololololo……kueeeeeee,
lolololololo……kueeeeeee, lolololololo……kueeeeeee, lolololololo……kueeeeeee,
lolololololo……kueeeeeee
DIAM KITA BINASA
kukira begini seniscayanya
presiden pun patut dilawan
bahkan digulingkan
apabila mencurangi kita rakyatnya
menjual kampung-halaman
pertama-tama jangan tinggal di menara gading
berumahlah di kampung, bersama mereka
yang menakik karet, memotong rotan
buruh sawit, para nelayan
orang-orang di pasar
di sini terdapat halaman-halaman kitab
dari yang suci hingga yang ilmiah
mengajarkan kebijakan-kebijakan tanggap
dari mereka kau paham
dengan pemahaman bebas dusta
sering terjadi di laporan-laporan resmi
di sinilah pula cinta ditapis
bermartabat dan tidak akan ditakar
di sini pula dayak dibaptis
sebagai dayak utus panarung
kampung adalah cermin raksasa
untuk melihat presiden
untuk melihat gubernur dan bupati
sekda dan asesorisnya
juga cermin untuk diri sendiri
dusta dan penindasan patut dilawan
diam kita binasa
melawan artinya
kita benar seorang pencinta
dan anak bangsa
yang paham arti republik dan indonesia
SEBUAH PULAU
sebuah pulau
sebuah negeri
membatu
tenggelam dalam banjir bandang
diciptakan para penguasa pedagang
yang menjajakan segala
sebuah pulau
sebuah negeri
bersungai airmata
perahu bocor
adalah esok
yang berlayar di atasnya
walau sajak menjadi sipongang gunung
ia masih kutuliskan
menyimpan kejadian demi kejadian
menolak putus harapan
tanda aku masih mau jadi manusia
2013.
DARI SIANTAN
dari siantan seberang sungai bohang
aku melihat ketika kembali datang
langkang pulang betunas
punggur balik bedaun *)
kejatuhan membangkitkan manusia
menjadi dirinya kembali
- Ungkapan Dayak Jelai: ‘’yang mati tumbuh kembali, pohon yang jatuh di lubuk berdaun lagi’’.
MISI ILAHI
tidak gampang untuk setia menjadi manusia
tidak pula sederhana menjadi dayak zamani
kami meretas jalan di pulau raya yang rusak
belum sampai di ujung
tak terbilang yang sudah tergeletak
berceloteh memang jauh lebih sederhana
sebab menyerahpun tak melepaskan diri dari dera
barangkali di sinilah arti nasehat tetua tentang
berlaga sebagai misi ilahi dayak
sehingga yang mati bisa bertunas kembali
TERRA IN COGNITA
orang-orang lalulalang di kampungku sambil memungut segala yang bisa dipungut kemudian
pulang meninggalkan tepian rusak di sungai
gubuk roboh di hutan dan gunung berantakan
orang-orang berlomba masuk-keluar kampung dan hutanku seakan-akan pulau ini kosong
kami tidak ada dilirikpun tidak apalagi bertutursapa
lalu siapakah lagi yang bicara
tentang dayak jika bukan dayak
jakarta seperti bukan ibukota kami
hanya namanya ibukota republik dan negeri
maka kami tak boleh tergantung padanya
pulau ini kembali dianggap terra in cognita
KEPADA JOHN BAMBA
wajah kota dituju itu sayup-pinggirnya pun belum nampak, angin tak membawa kokok jago pertanda fajar tiba serta segala rupa suara, kita hanya tahu mesti ke sana sesuai peta kendati yang sayup dan jauh hanyalah bayangan lika-liku barangkali serupa pantai kelima
kota dengan wajah telah dipeta itu
adalah kota bersama
bukan hanya untuk yang di depan
atau untuk satu-dua berdiam
yang bergerak tentu saja beranjak
tidak akan tetap di tempat apalagi langkah sudah diayun mendasawarsa ditandai oleh ruparupa getir dan gelak tersimpan di kerut dahi tak terlupakan hati
lampau satu tikungan
ribuan menunggu
tak terbilang yang berjatuhan
sebelum ke bandara hari itu
aku mendengar peringatan waktu
tentang keniscayaan memetakan keberlangsungan
siapa nanti pembawa panji
Kusni Sulang merupakan sastrawan dan budayawan Indonesia asal Kalimantan Tengah.
