Di Balik Tradisi Karapan Sapi Madura

Apr 8, 2021 04:35 · 6 tahun lalu
 1111
Di Balik Tradisi  Karapan Sapi Madura

Setiap daerah memiliki kebudayaan dan kebiasaannya masing-masing, seperti pada masyarakat Madura yang memiliki kesenian khas yaitu Karapan Sapi yang sudah turun temurun. Disebut Karapan Sapi karena dua pasang sapi jantan diadu dalam kecepatan larinya dengan ditunggangi oleh satu joki dengan memakai peralatan berupa Pangonong dan Kaleles  (istitlah dalam bahasa madura), pasangan sapi yang paling awal sampai digarif finish adalah pemenangnya. Karapan sapi biasanya dilakukan setelah panen padi dengan mengadakan lomba balapan sapi.

Kesenian ini berawal dari alasan untuk menambah semangat dalam menggarap sawah  akan tetapi, lama kelamaan  masyarakat menjadi gemar melakukan adu sapi ini. Kemudian adu sapi ini berkembang menjadi sebuah kesenian atau hiburan rakyat yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa kegembiraan masyarakat setelah melakukan kerja berat di lahan pertanian mereka. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan kerapan sapi pada bulan Agustus dan September di setiap tahunnya, dengan pertandingan final diselenggarakan pada akhir bulan September atau Oktober di kota Pamekasan untuk memperebutkan piala bergilir presiden. Dengan adanya piala tersebut maka rasa antusiasme masyarakat Madura yang ingin mengikuti pacuan sapi jadi meningkat.

Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat Madura, Karapan Sapi tidak lepas dari figur Kyai Baidowi sebagai salah satu penyebar agama Islam di Madura terutama di Sumenep. Sebagaimana yang diperintahkan oleh Sunan Kudus, Kyai Baidowi berdakwah dengan cara mengajarkan masyarakat madura sebuah pola unik untuk bercocok tanam jagung yaitu Umur jagung hanya satu hari, begitu ditanam besoknya langsung dipanen.Mendengar hal itu masyarakat Madura menjadi antusias untuk belajar bercocok tanam, lalu kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Kyai Baidowi. Beliau mengajarkan nilai-nilai islam kepada masyarakat Madura seperti ketika hendak menacapkan tongkat ketanah harus didahlui dengan membaca Basmalah, ketika akan memasukan benih jagung membaca kalimat syahadat dan yang terakhir ketika panen hendaknya mengucapkan syukur kepada Allah atas apa yang sudah diberikan.

Dengan apa yang dilakukan oleh Kyai Baidowi  masyarakat yang bercocok tanam jagung semakin hari semakin bertambah, maka saat itu jagung menjadi makanan pokok masyarakat Madura. Disaat menggunakan tenaga manusia dirasa kurang efektif, maka Kyai Baidowi memiliki ide untuk memanfaatkan hewan berupa Sapi agar bisa membantu mengurangi beban pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat dalam bercocok tanam. Caranya yaitu sepasang sapi dilengkapi dengan peralatan panganong dan nanggeleh atau salageh sedangkan petani yang mengendalikan memegang ujungnya yang disebut asakak oleh masyarakat madura.

Para petani megikuti cara yang diajarkan oleh Kyai Baidowi karena mereka menganggap bahwa hal itu selain menyenangkan juga dapat membantu dalam mempercepat panen hingga membuat kehidupan masyarakat Madura semakin makmur pada saat itu. Melihat hal itu, kyai Baidowi kemudian menyelenggarakan pesta panen dengan berupa lomba lari sapi di alun-alun yang di iringi dengan musik tradisonal. Sejak saat itu karapan sapi menjadi tradisi turun temurun yang dilakukan serta merupakan budaya yang dikenal bagi masyarakat madura.

Namun karapan sapi yang dilakukan oleh masyarakat madura juga memiliki sisi negatif yaitu unsur penyiksaan terhadap binatang yang dilakukan oleh joki didepan ribuan penonton. Menyiksa binatang merupakan perbuatan anarkis, tidak manusiawi dan bertolak belakang dengan nilai andep asor, disamping itu juga bertentangan dengan ajaran agama. Kedua, karapan sapi sebagai taruhan. Tidak bisa dipungkiri lagi, dimana ada kerapan sapi maka disitu juga ada ajang taruhan / judi. Kemudian carok dalam karapan sapi madura, biasanya dalam ajang ini sering terjadi konflik yang bisa menelan korban jiwa, baik itu konflik antar petaruh maupun antar pemilik sapi yang menimbulkan konflik dan diselesaikan melalui carok. Selain itu karapan sapi ini juga dijadikan sebagai ajang praktik pelacuran dan mabuk-mabukan, walaupun karapan sapi digelar pada malam hari, tetapi keramaian telah dimulai pada malam sebelumya dimana memang sudah terdapat warung-warung disekitar lapangan yang disediakan untuk pesta mabuk-mabukan.

Namun dibalik sisi negatif tersebut karapan sapi juga memiliki sisi positif yaitu dengan adanya karapan sapi dapat melestariskan budaya dan tradisi madura karena pada saat acara berlangsung juga ditampilkan tarian adat dan musik tradisional madura. Selain itu karapan sapi ini dapat mengembangkan pasiwisata madura, karena kedatangan wisatawan domestik ataun mancanegara selain memberikan keuntungan secara ekonomis juga bisa mengenalkan kepada orang luar mengenai kekayaan alam yang ada di madura. Upacara karapan sapi ini sangat populer dan sangat menarik perhatian wisatawan baik lokal maupun manca negara saat berkunjung ke Madura. Hal ini sangat memiliki peran yang baik dalam memperkenalkan budaya yang ada di Indonesia.

 

Sumber Oleh :

https://ilmuseni.com/seni-budaya/adat-istiadat-jawa-timur-upacara-kerapan-sapi

https://www.maduracity.com/2019/10/asal-usul-sisi-positif-dan-negatif.html